Kecelakaan Itu…

Pernahkah sedetik kita bersyukur karena memiliki kaki? Mungkin karena rutinitas sehari-hari kita jadi tidak merasakan apakah ada bedanya ketika kita memiliki atau tidak memiliki kaki. Berjalan, berlari merupakan rutinitas sehari-hari sehingga kita menganggapnya sebagai kewajaran. Pernahkah kita membayangkan seandainya kita terlahir dengan kaki cacat atau suatu ketika ada kejadian yang membuat kaki kita tidak bisa digunakan?

Mungkin bagi beberapa orang ini hal yang biasa. Tapi ini merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga bagiku. Sabtu Pagi, 9 Juli 2011, aku melakukan rutinitas pulang kampung, menempuh 60 Km menggunakan bebek bermesinku. Ketika melewati jalanan sepi jauh dari perkampungan, entah bagaimana kronologisnya ( atau aku yg tidak mau mengingatnya ), ada sebuah motor yang membonceng keranjang besi berisi jrigen bensin menyenggolku dari depan. Dan brakk (ah, gimana ya suaranya, aku lupa😀 ) tiba2 kakiku terasa sakit. aku memutuskan menepi untuk melihat apakah ada yang terluka. Aku berusaha menggapai rem dengan kaki kananku, namun aku tidak bias mencapainya. Ah, mungkin pedal remku rusak terbentur keranjang besi tadi. Ketika akhirnya aku berhasil menepi dengan rem tangan, aku terkejut sekali mendapati betisku telah berdarah-darah dan BENGKOK. Rupanya bukan remku yang rusak melainkan kakiku ( apadeh, bahasanya😀 ). Setelah detik itu, baru kurasakan sakit yang sangat. “Ya Allah kakiku kenapa bengkok gini, apa yang harus kulakukan?”, kataku dalam hati. Antara sadar dan tidak, aku berusaha turun dari motor (sambil menggumam Ya Allah..ya Allah), ah tapi kenapa tidak bisa!! Sakitt.. Akhirnya aku berteriak minta tolong, tapi kenapa motor yang lewat tidak ada yang peduli. Mungkin mereka kira aku tidak apa-apa (aku masih dlm posisi naik motor, dengan kaki kiri sebagai penahan). Memang di jalur ini yg naik motor pada kenceng2, soalnya sepi. Sampai pada akhirnya ada Bapak naik sepeda onthel lewat. Bapak itu kaget melihat wajahku yang pucat pasi tak berdaya (tsahh, lebay banget dah). Pertama-tama dia membantuku turun dari motor. Lalu dia memanggil beberapa temannya. Mulai ramailah TKP. Aku gak peduli diliat banyak orang, aku meraih tasku, aku menelpon teman terdekat kemudian menelpon rumah. Bapak yang menolongku tadi memberiku minum dan berusaha menghentikan mobil yang lewat. Sementara aku nangis gero-gero (apa ya bhs indonesianya) dan semakin keras menggumam Astagfirullahal’adzim, tambah sakittt bangett. Alhamdulillah, ada mobil jeep putih yang berhenti. Cobaan belum berakhir, dalam perjalanan menuju rumah sakit, aku terus saja nangis apalagi kondisi jalan yang rusak semakin menambah deritaku. Tulangku yang patah bergesek ketika mobil melewati jalan berlubang, dan sakitnya luar biasa.

Alhamdulillah sesampai di RS terdekat, rupanya temanku sudah menanti disana (Syukron Jazakillah dek Heni). Aku hanya tersenyum padanya, sedangkan ia terlihat khawatir. Lukaku segera dibersihkan dan dikasih semacam kayu, katanya biar gak banyak gerak dan gak semakin “mlengse” tulangnya. Pada saat itu, mau gak mau aku harus menghadapi jarum suntik yang selama ini kuhindari. Setelah itu kakiku juga di Sinar X. Tak berapa lama orangtuaku datang.

Kata perawat, aku harus segera dioperasi. Yah, operasi, kata-kata yang selama ini hanya kudengar dari sinetron dan beberapa cerita dari saudara dan teman. Gimana yah rasanya operasi… Temanku yang menungguku tadi menyarankan jangan operasi di Tuban, karena ada 2 orang saudaranya yang patah tulang ditangani di tuban dan menjadi semakin parah. Ia menyarankan langsung ke solo saja. Akhirnya hari itu juga aku dirujuk ke Solo. Ibu, Bapak dan seorang sepupu ikut di dalam ambulans. Ah, rupanya akan ada cobaan lagi. Perjalanan Tuban-Solo akan ditempuh selama 7 Jam. Dan sepanjang jalan Tuban-Solo banyak yang gronjalan. Aku tidak bisa menggambarkan situasi dengan detil. Yang jelas setiap melewati jalan yang rusak, kakiku akan terasa sakiiittt sekali dan akan keluar darah yang banyak dari kakiku. Sepanjang perjalanan aku menangis dan beristighfar sambil menggenggam erat tangan Ibu ( manjanya keluar deh😀 ).

 

Bersambung…

3 Komentar (+add yours?)

  1. ramadaniwahyu
    Sep 16, 2011 @ 16:36:30

    ceritanya….. terlalu mendramatisir keadaan….

    Balas

  2. mamduh
    Apr 11, 2012 @ 12:29:03

    Hmmm…nice blog,…
    ^^

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: